TERNYATA……!
NABI MUHAMMAD
SAW, PERNAH MENCIUM TANGAN SESEORANG. SIAPAKAH BELIAU….?
NABI MUHAMMAD SAW, PERNAH MENCIUM TANGAN SESEORANG. SIAPAKAH BELIAU….?
Kisah Teladan Islami kali ini akan membagi tentang Si
Tukang Batu Yang Di Cium Rasulullah . Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah
baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar
ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam
peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan
dan ada uzur.
Saat mendekati kota Madinah, di salah
satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu
Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah
kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
Sang manusia Agung itupun bertanya,
“Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Si tukang batu menjawab, “Ya
Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu
saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga
saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Rasulullah adalah manusia paling mulia,
tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu
yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasul pun menggenggam tangan itu,
dan menciumnya seraya bersabda,
“Hadzihi yadun la
tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api
neraka selama-lamanya’.
* Rasulullahl tidak pernah mencium
tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau
siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu
itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang
dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar,
kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.
Suatu ketika seorang laki-laki melintas
di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan
tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja
seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi
sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih
kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang
tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk
kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)
* Orang-orang yang pasif dan malas
bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian
dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur.
Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.
”Maka apabila telah dilaksanakan
shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah
Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)
”Dan Allah menjadikan bumi untukmu
sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS
Nuh19-20)
* ”Siapa saja pada malam hari bersusah
payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir
dari Anas)
”Siapa saja pada sore hari bersusah
payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)
”Tidak ada yang lebih baik bagi
seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan
sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)
”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu,
ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun
bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
”Bersusah payah dalam mencari nafkah.”
(HR. Bukhari)
”Barangsiapa yang bekerja keras mencari
nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa
Jalla”. (HR. Ahmad) ( Baca juga : Mencari Nafkah Termasuk Pengertian Jihad
Dalam Islam )
Demikian lah sebagan kecil tentang kisah teladan
islami agar kita semakin tahu dan semakin giat dalam mencari rizki allah yang
halal dan berkah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar